Jumat, 23 Maret 2012

media tanam

MAKALAH DASAR BUDIDAYA TANAMAN
MEDIA TANAM






KELOMPOK 2            :
-          Intan Widyaningrum
115040200111037
-          Rudolfo Garcia H.
115040201111089
-          Dika Chiqmatul Janah
115040201111090
-          Yurike Pricilia P.
115040201111097
-          Rud Biondy J.P
115040201111280
-          Anita Novi Agustin
115040201111285
-          Riskyhanti Octrivian
115040201111287
-          Affandi Alam
115040201111291

Kelas F AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2012

KATA PENGANTAR


            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya, sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah tentang MEDIA TANAM dengan tepat waktu.

            Makalah ini kami susun guna menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen..  Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan informasi kepada kita tentang MEDIA TANAM.

            Kami menyadari bahwa
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

            Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
makalah ini mulai dari awal hingga akhir. Semoga Tuhan senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin


  Malang, 12 April 2012


                                                                                                                         Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
     Media tanam dilakukan oleh para petani untuk memulai bercocok tanam sesuai dengan jenis tanaman. Untuk media tanam harus disesuaikan dengan suhu dan kelembapan yang sesuai pada daerah yang akan bercocok tanam.
       Untuk media tanam yang baik seharusnya dengan memperhatikan suhu dan kelembapan yang cocok untuk tanaman tersebut.


1.2  Tujuan
-          Untuk mengetahui macam-macam media tanah
-          Untuk mendeskripsikan jenis-jenis tanah
-          Untuk mengetahui cara pengolahan tanah










BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Definisi Media tanam
           Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.
Media tanam secara umum di bag menjadi dua yaitu :
-       Menggunakan media tanah dan
-       Menggunakan media bukan tanah       
2.2   Menggunakan media tanah
     Tanah merupakan bahan  lepas yang tersusun dari batuan yang  telah  melapuk dan mineral lainnya dan juga bahan organik yang telah melapuk yang menyelimuti sebagian besar permukaan bumi.
Manfaat tanah bagi tanaman
Atas dasar definisi ini maka tanah sebagai media tumbuh mempunyai empat fungsi utama, yaitu :
1. Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran yang mempunyai dua peran utama, yaitu :
a. Penyokong tegak tumbuhnya trubus (bagian atas) tanaman
b. Sebagai penyerap zat-zat yang dibutuhkan tetanaman
2. Penyedia kebutuhan primer tanaman untuk melaksanakan aktivitas metabolismenya, baik selama pertumbuhan maupun untuk berproduksi, meliputi air, udara dan unsur-unsur hara

3. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman yang berfungsi dalam menunjang aktivitasnya supaya berlangsung optimum, meliputi zat-zat aditif yang diproduksi oleh biota terutama mikroflora tanah seperti :
a. Zat-zat pemacu tumbuh (hormone, vitamin dan asam-asam organic khas)
b. Antibiotik dan toksin yang berfungsi sebagai anti hama-penyakit tanaman di dalam tanah dan
c. Senyawa-senyawa atau enzim yang berfungsi dalam penyediaan kebutuhan primer tersebut atau transformasi zat-zat toksik eksternal seperti pestisida dan limbah industry berbahaya.
4. Habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negative karena merupakan hama-penyakit tanaman.
      Fungsi-fungsi tanah yang sedemikian vitalnya dalam penyediaan bahan pangan, papan dan sandang bagi manusia (juga bagi hewan) ini membawa konsekuensi bahwa seorang ahli tanah tidak saja dituntut untuk berpengetahuan tantang tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, tetapi juga harus memahami fungsi tanah sebagai pelindung tanaman dari serangan hama-penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri berbahaya.
Tanah menyediakan kebutuhan tanaman yaitu:
a.       Penyedia air
b.      Penyedia unsur hara
c.       Penyedia udara
d.      Tempat bertumpunya akar tanaman.

JENIS TANAH
Tanah adalah lapisan atas bumi yang merupakan campuran dari pelapukan batuan dan jasad makhluk hidup yang telah mati dan membusuk.  Oleh pengaruh cuaca, jasad makhluk hidup tadi menjadi lapuk, mineral-mineralnya terurai (terlepas), dan kemudian membentuk tanah yang subur. Tanah juga disebut lithosfer (lith = batuan) karena dibentuk dari hasil pelapukan batuan.
Tanah merupakan unsur kehidupan yang paling penting. Tanpa tanah, tentu kita tak ada tempat berpijak. Tanah memiliki banyak jenis karena perbedaan proses pembentukan dan unsur yang terdapat di dalamnya juga berbeda. Berikut jenis-jenis tanah yang ada di Indonesia.
a. Tanah Vulkanik
Tanah vulkanik adalah tanah hasil pelapukan abu vulkanik dari gunung berapi. Tanah vulkanik dibagi menjadi dua.
1.      Regosol. Tanah regosol berciri-ciri: berbutir kasar, berwarna kelabu sampai kuning, dan berbahan organik sedikit. Tanah ini cocok untuk tanaman palawija (seperti jagung), tembakau, dan buah-buahan. Jenis tanah ini banyak terdapat di P. Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara.
2.      Latosol. Tanah latosol berciri-ciri: berwarna merah hingga kuning, kandungan bahan organik sedang, dan bersifat asam. Tanah ini cocok untuk tanaman palawija, padi, kelapa, karet, kopi, dll. Jenis tanah ini banyak terdapat di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bali, Jawa, Minahasa, dan Papua.
Tanah vulkanis
b. Tanah Organosol
Tanah organosol merupakan tanah hasil pelapukan bahan-bahan organik. Biasanya bersifat subur. Tanah jenis ini dibagi dua juga, yaitu:
1.      Tanah Humus, merupakan tanah hasil pembusukan bahan-bahan organik dan bersifat sangat subur. Tanah humus berwarna kecoklatan dan cocok untuk tanaman kelapa, nanas, dan padi. Tanah jenis ini banyak terdapat di P. Sumatra, Sulawesi, Jawa Barat, Kalimantan, dan Papua.
Tanah humus
2.      Tanah Gambut, merupakan tanah hasil pembusukan yang kurang sempurna di daerah yang selalu tergenang air seperti rawa. Tanah ini kurang baik untuk pertanian karena kurang subur dan selalu tergenang air. Tanah gambut banyak terdapat di Kalimantan Barat, pantai timur Sumatra, dan pantai selatan-barat Papua.
Tanah Gambut 
c. Tanah Aluvium (Alluvial)
 Tanah aluvium adalah tanah hasil erosi yang diendapkan di dataran rendah. Ciri-ciri tanah aluvium adalah berwarna kelabu dan subur. Tanah ini cocok untuk tanaman padi, palawija, tebu, kelapa, tembakau, dan buah-buahan. Tanah jenis ini banyak terdapat di Sumatra bagian Timur, Jawa bagian utara, Kalimantan bagian barat dan selatan, serta Papua utara dan selatan.

d. Tanah Podzol
Tanah ini terbentuk akibat pengaruh  curah hujan yang tinggi dan suhu yang rendah. Tanah podzol bercirikan miskin unsur hara, tidak subur, dan berwarna merah sampai kuning. Tanah ini baik untuk tanaman kelapa dan jambu mete. Tanah podzol banyak dijumpai di daerah pegunungan tinggi Sumatra, Jabar, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua.
e. Tanah Laterit
Tanah laterit adala tanah hasil ‘pencucian’ sehingga kurang subur, kehilangan unsur hara, dan tandus. Tanah ini awalnya subur namun karena zat haranya dilarutkan oleh air maka menjadi tidak subur. Warna tanah ini kekuningan sampai merah. Tanah ini baik untuk kelapa dan jambu mete. Tanah jenis ini banyak terdapat di Jawa Tengah, Lampung, Jabar, Kal-Bar, dan Sulawesi Tenggara.
Tanah laterit

f. Tanah Litosol
Tanah litosol adalah tanah hasil pelapukan batuan beku dan batuan sedimen yang baru terbentuk sehingga butirannya besar. Ciri-ciri tanah ini yaitu miskin unsur hara dan mineralnya masih terikat pada butiran yang besar. Tanah litosol kurang subur sehingga hanya cocok bagi tanaman-tanaman besar di hutan. Tanah litosol banya terdapat di P. Sumatra, Jawa Tengah dan Timur, Nusa Tenggara, Maluku selatan, dan Papua.

g. Tanah Kapur
Tanah kapur merupakan hasil pelapukan batuan kapur (gamping). Tanah ini terbagi jadi dua jenis.
1.      Renzina. Tanah ini merupakan hasil pelapukan batuan kapur di daerah dengan curah hujan tinggi. Ciri tanah ini yaitu berwarna hitam dan miskin zat hara. Tanah renzina banyak terdapat di daerah berkapur seperti Gunung Kidul (Yogyakarta).
2.      Mediteran, meruapakn hasil pelapukan batuan kapur keras dan batuan sedimen. Warna tanah ini kemerahan sampai coklat. Tanah jenis ini meski kurang subur namun cocok untuk tanaman palawija, jati, tembakau, dan jambu mete.
h. Tanah Pasir
Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil. Jenis tanah ini dijumpai di mana-mana.





Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah adalah proses di mana tanah digemburkan dan dilembekkan dengan menggunakan tangkai kemudi ataupun penggaru yang ditarik oleh traktor maupun bajak yang ditarik oleh binatang maupun manusia. Melalui proses ini, kerak tanah teraduk, sehingga udara dan cahaya matahari menembus tanah dan meningkatkan kesuburannya. Sekalipun demi­kian, tanah yang sering digarap sering menyebabkan kesuburannya berkurang.
Tujuan pengolahan tanah ialah
         Mencampur dan menggemburkan tanah
         Mengendalikan tanaman pengganggu
         Mencampur sisa tanaman dengan tanah
         Menciptakan/membuat kondisi tanah untuk pertumbuhan akar yang ideal
Dalam pengolahan tanah terdapat cara-cara untuk mengolah tanah yaitu dengan cara:
a.       Mencangkul
Mencangkul biasa di lakukan oleh petani desa yang kurang mampu untuk membeli peralatan yang modern, akan tetapi mencangkul relatif tidak menyebabkan pemadatan pada lapisan bawah namun tanah sering terbuka sehingga rawan erosi.
b.      Bajak singkal
Bajak singkal yang biasa di gunakan dengan menggunakan hewan atau alat tradisional berupa traktor. Yaitu untuk menggemburkan tanah olahan sampai  30 cm, relatif tidak menyebabkan pemadatan pada lapisan bawah. Bajak singkal berfungsi membalik tanah dan sekaligus memendam gulma.
c.       Garu
Sedangkan garu digunakan untuk menggemburkan tanah dengan menggunakan alat tradisional yang biasa di gunakan oleh petani secara turun menurun.
Garu biasanya di gunakan pada tanah yang berlumur atau tanah yang banyak tergenang air, untu meratakan media tanam.


d.      Rotary
Rotary merupakan alat modern yang dalam penggunaannya langsung menghancurkan tanah dan memotong gulma serta memendam dengan menggunakan tenaga penggerak atau diese.
e.       Traktor
Alat ini dapat membolak-balik tanah dengan kedalaman 20cm, tetapi pada waktu yang bersamaan roda traktor dapat mengakibatkan pemadatan tanah.

Pola Penggunaan Lahan Basah dan Lahan Kering
-          Pola penggunaan lahan secara basah
Pengelolaan lahan basah di Indonesia media dilumpurkan dengan menghancurkan agregat dapat memudahakan perkolasi,pelarutan hara dan memudahkan tanam.
Memudahkan pemeliharaan, untuk pengelolaan lahan basah di Indonesia banyak di Tanami tanaman padi.
-          Pengolahan lahan secara kering
Tanah kering biasanya di gunakan untuk penanaman tanaman pangan, horti, dan industry.
Lahan kering yang sering di jumpai di Indonesia di gunakan untuk penanaman tanaman yang keras dan berkayu,
Sebagian besar orang Indonesia  pengolahannya menggunakan cangkul.
2.3 Media Tanam Bukan Tanah
Media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam. Untuk mendapatkan tanaman yang bagus, harus ditentukan media tanam yang sesuai dengan karakteristik dari tanaman itu sendiri. Berdasarkan jenis bahan penyusunnya media tanam dibedakan menjadi bahan organik dan anorganik :
a)    Bahan Organik
Media tanam dikatakan dalam kategori bahan organik adalah media tanam yang berasal dari organisme hidup misalnya yang berasal dari daun,batang,akar, bunga, dan lain-lain. Bahan organik lebih unggul jika digunakan sebagai media tanam karena banyak menyadiakan unsur hara bagi tanaman, selain itu juga memiliki pori-pori makro dengan daya serap yang tinggi. Berikut adalah macam media tanam bahan organik:
1.      Arang
Arang berasal dari sisa bakaran  kayu atau batok kelapa. Media tanam ini sangat cocok digunakan untuk tanaman anggrek di daerah dengan  kelembapan tinggi. Hal itu dikarenakan arang kurang mampu mengikat air dalam )umlah banyak. Keunikan dari media jenis arang adalah sifatnya yang bufer (penyangga). Dengan demikian, jika terjadi kekeliruan dalam pemberian unsur hara yang terkandung di dalam pupuk bisa segera dinetralisir dan diadaptasikan. Media tanam ini tidak mudah lapuk sehingga sulit di tumbuhi jamur ataupun cendawan yang dapat merugikan tanaman. Namun , kelemahannya adalah media  ini miskin unsur hara sehingga dalam pengaplikasiannya ditambahkan dengan pupuk.
2.      Batang Pakis

Batang pakis merupakan media tanam yang berasal yang berasal dari tanaman  pakis yang sudah tua sehingga sudah kering. Pada umumnya yang digunakan untuk media tanam adalah batang pakis hitam. Batang pakis ini dapat di cacah kecil-keil untuk dujadikan media tanam. Kelemahan ari media ini adalah kepingan cacahan tersebut sering dihuni oleh binatang kecil seperti semut dan lainnya. Sedangkan keunggulan dari media ini adalah batang pakis memiliki sifat-sifat yang mudah mengikat air, memiliki aerasi dan drainase yang baik, serta bertekstur lunak sehingga mudah ditembus oleh akar tanaman.
3.      Kompos
Kompos merupakan media tanam yang berasal dari proses fermentasi tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun, rumput, dan sampah kota. Kelebihan dari penggunaan kompos sebagai media tanam adalah sifatnya yang mampu mengembalikan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat-sifat tanah, baik fisik, kimiawi, maupun biologis. Selain itu, kompos juga menjadi fasilitator dalam penyerapan unsur nitrogen (N) yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Kompos yang baik untuk digunakan sebagai media tanam yaitu yang telah mengalami pelapukan secara sempurna, ditandai dengan perubahan warna dari bahan pembentuknya (hitam kecokelatan), tidak berbau, memiliki kadar air yang rendah, dan memiliki suhu ruang.
4.      Moss
Moss merupakan media tanam yang berasal dari akar paku-pakuan atau kadak yang banyak dijumpai dihutan. Media tanam sering digunakan dalam membudidayakan tanaman dalam masa persemaian sampai dengan masa pembungaan. Moss memiliki banyak rongga sehingga memungkinkan akar tnaman tumbuh dan berkembang dengan leluasa. Moss memiliki sifat mengikat air yang baik serta memiliki sistem drainase yang dan aerasi yang lancar.
5.      Pupuk  Kandang
Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan disebut sebagai pupuk kandang. Kandungan unsur haranya yang lengkap seperti natrium (N), fosfor (P), dan kalium (K) membuat pupuk kandang cocok untuk dijadikan sebagai media tanam. Unsur-unsur tersebut penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, pupuk kandang memiliki kandungan mikroorganisme yang diyakini mampu merombak bahan organik yang sulit dicerna tanaman menjadi komponen yang lebih mudah untuk diserap oleh tanaman. Pupuk kandang yang akan digunakan sebagai media tanam harus yang sudah matang dan steril. Pemilihan pupuk kandang yang sudah matang bertujuan untuk mencegah munculnya bakteri atau cendawan yang dapat merusak tanaman.
6.      Sabut kelapa
Sabut kelapa merupakan salah satu bahan organik alternatif untuk media tanam. Media tanam sabut kelapa ini digunakan pada daerah dengan curah hujan yang rendah,karena jika sabut kelapa berada pada keadaan air yang berlebih akan menyebabkan sabut lapuk kemudian akan ditumbuhi jamur serta cendawan yang sangat merugikan tanaman. Kelebihan sabut kelapa sebagai media tanam lebih dikarenakan karakteristiknya yang mampu mengikat dan menyimpan air dengan kuat, sesuai untuk daerah panas, dan mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P).
7.      Sekam padi
Sekam padi adalah kulit biji padi yang sudah digiling. Sekam padi yang biasa digunakan bisa berupa sekam bakar atau sekam mentah (tidak dibakar). Sekam bakar dan sekam mentah memiliki tingkat porositas yang sama. Sebagai media tanam, keduanya berperan penting dalam perbaikan struktur tanah sehingga sistem aerasi dan drainase di media tanam menjadi lebih baik.Penggunaan sekam bakar untuk media tanam tidak perlu disterilisasi lagi karena mikroba patogen telah mati selama proses pembakaran. Selain itu, sekam bakar juga memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi sehingga membuat media tanam ini menjadi gembur, Namun, sekam bakar cenderung mudah lapuk. Sementara kelebihan sekam mentah sebagai media tanam yaitu mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, merupakan sumber kalium (K) yang dibutuhkan tanaman, dan tidak mudah menggumpal atau memadat sehingga akar tanaman dapat tumbuh dengan sempurna. Namun, sekam padi mentah cenderung miskin akan unsur hara.
8.      Humus
Humus adalah media tanam yang berasal dari segala macam hasil pelapukanjsad mikro dan merupakan sumber energi dari jasad mikro tersebut. Bahanbahan organik tersebut bisa berupa jaringan asli tubuh tumbuhan atau binatang mati yang belum lapuk. Biasanya, humus berwarna gelap dan dijumpai terutama pada lapisan atas tanah (top soil). Humus sangat membantu dalam proses penggemburan tanah dan memiliki kemampuan daya tukar ion yang tinggi sehingga bisa menyimpan unsur hara. Namun, media tanam ini mudah ditumbuhi jamur terlebih ketika terjadi perubahan suhu, kelembapan, dan aerasi yang ekstrim. Humus Juga memiliki tingkat porositas yang rendah sehingga akar tanaman tidak mampu menyerap air. Dengan demikian, sebaiknya penggunaan humus sebagai media tanam perlu ditambahkan media lain yang memiliki porositas tinggi, misalnya tanah dan pasir.
b)   Bahan Anorganik
Bahan anorganik adalah  bahan  dengan kandungan unsur mineral tinggi yang  berasal dari  proses  pelapukan batuan induk di dalam bumi. Proses pelapukan tersebut diakibatkan oleh berbagai  hal, yaitu  pelapukan  secara fisik, biologi-mekanik, dan  kimiawi. Berikut adalah beberapa macam antara lain:
1.        Gel
Gel merupakan media tanam bahan anorganik yan berasal dari molekul-molekul polimer. Hampir semua jenis tanaman hias indoor bisa ditanam dalam media ini, misalnya philodendron dan anthurium. Namun, gel tidak eaeak untuk tanaman hias berakar keras, sepert i adenium atau tanaman hias bonsai. Hal itu bukan dikarenakan  ketidakmampuan gel dalam memasok kebutuhan air, tetapi lebih dikarenakan  pertumbuhan akar tanaman yang mengeras sehingga bisa membuat vas pecah. Sebagian besar nursery lebih memilih gel sebagai pengganti tanah untuk pengangkutan tanaman dalam jarak jauh. Tujuannya agar kelembapan tanaman tetap terjaga. Keunggulan lain dari gel yaitu tetap cantik meskipun bersanding dengan media lain. Di Jepang gel digunakan sebagai komponen terarium bersama dengan pasir. Gel yang berwarna-warni dapat memberi kesan hidup pada taman miniatur tersebut.
2.        Pasir
Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggatikan fungsi tanah. Media tanam digunakan sebgai media tanam untuk persemaian benih,pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang. Sifat media tanam ini adalah cepat kering sehingga akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir memiliki pori-pori makro maka pasir menjadi mudah basah dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi pasar sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air dan angin. Dengan begitu media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan intensif sehingga media pasir jarang digunakan untuk membudidayakan tanaman.
3.        Kerikil
Penggunaan media tanam kerikil pada dasarnya adalah sama dengan pasir. Pori-pori makro pada kerikil lebih banyak daripada pasir. Kerikil sering digunakan dalam budidaya tanaman hidroponik. . Penggunaan media ini akan membantu peredaran larutan unsur hara dan udara serta pada prinsipnya tidak menekan pertumbuhan akar. Namun, kerikil memiliki kemampuan mengikat air yang relatif rendah sehingga mudah basah dan cepat kering jika penyiraman tidak dilakukan secara rutin.
4.        Pecahan Batu bata
Media tanam pecahan batu bata merupakan alternatif untuk media penanaman dari bahn anorganik. Ukuran pecahan batu bata yang digunakan untuk media tanam adalah dibuat seperti kerikil karena semakin kecil ukurannya, kemampuan daya serap batu bata terhadap air maupun unsur hara akan semakin baik. Selain itu, ukuran yang semakin kecil juga akan membuat sirkulasi udara dan kelembapan di sekitar akar tanaman berlangsung lebih baik. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan media tanam ini adalah kondisinya yang miskin hara. Selain itu, kebersihan dan kesterilan pecahan batu bata yang belum tentu terjamin. Oleh karena itu, penggunaan media ini perlu ditambahkan dengan pupuk kandang yang komposisi haranya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Walaupun miskin unsur hara, media pecahan batu bata tidak mudah melapuk. Dengan demikian, pecahan batu bata cocok digunakan sebagai media tanam di dasar pot karena memiliki kemampuan drainase dan aerasi yang baik. Tanaman yang sering menggunakan pecahan batu bata sebagai media dasar pot adalah anggrek.


5.        Spons (florafoam)
Spons bersifat sangat ringan sehingga mudah dipindah-pindahkan dan ditempatkan di mana saja. Walaupun ringan, media jenis ini tidak membutuhkan pemberat karena setelah direndam atau disiram air akan menjadi berat dengan sendirinya sehingga dapat menegakkan tanaman.Kelebihan lain dari media tanam spons adalah tingginya daya serap terhadap air dan unsur hara esensial yang biasanya diberikan dalam bentuk larutan. Namun, penggunaannya tidak tahan lama karena bahannya mudah hancur. Oleh karena itu, jika spons sudah terlihat tidak layak pakai (mudah hancur ketika dipegang), sebaiknya segera diganti dengan yang baru. Berdasarkan kelebihan dan kekurangannya tersebut, spons sering digunakan sebagai media tanam untuk tanaman hias bunga potong (cutting flower) yang penggunaannya cenderung hanya sementara waktu saja.
6.        Tanah Liat
Media tanam tanah liat ini merupakan tanah yang bertekstur paling halus dan lengket atau berlumpur. Karakteristik dari tanah liat adalah memiliki poripori berukuran keeil (pori-pori mikro) yang lebih banyak daripada pori-pori yang berukuran besar (pori-pori makro) sehingga memiliki kemampuan mengikat air yang eukup kuat. Pada dasarnya, tanah liat bersifat miskin unsur hara sehingga perlu dikombinasikan dengan bahan-bahan lain yang kaya akan unsur hara. Penggunaan tanah liat yang dikombinasikan dengan bahan-bahan lain seperti pasir dan humus sangat cocok dijadikan sebagai media penyemaian, eangkok, dan bonsai.
7.        Vermikulit dan Perlit
Vermikulit adalah media anorganik steril yang dihasilkan dari
pemananasan kepingan-kepingan mika serta mengandung potasium dan Halium. Berdasarkan sifatnya, vermikulit merupakan media tanam yang memiliki kemampuan kapasitas tukar kation yang tinggi, terutama dalam keadaan padat dan pada saat basah. Vermikulit dapat menurunkan berat jenis, dan meningkatkan daya serap air jika digunakan sebagai campuran media tanaman. Jika digunakan sebagai campuran media tanam, vermikulit dapat menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya absorpsi air sehingga bisa dengan mudah diserap oleh akar tanaman. Berbeda dengan vermikulit, perlit merupakan produk mineral berbobot ringan serta memiliki kapasitas tukar kation dan daya serap air yang rendah. Sebagai campuran media tanam, fungsi perlit sama dengan Vermikulit, yakni menurunkan berat jenis dan meningkatkan daya serap air. Penggunaan vermikulit dan perlit sebagai media tanam sebaiknya dikombinasikan dengan bahan organik untuk mengoptimalkan tanaman dalam menyerap unsur-unsur hara.
8.        Gabus (styrofoam)
Styrofoam merupakan bahan anorganik yang terbuat dari kopolimer
styren yang dapat dijadikan sebagai alternatif media tanam. Mulanya, styrofoam hanya digunakan sebagai media aklimatisasi (penyesuaian diri) bagi tanaman sebelum ditanam di lahan. Proses aklimatisasi tersebut hanya bersifat sementara. Gabus digunakan sebagai campuran campuran media tanam untuk meningkatkan porousitas media tanam. Untuk keperluan ini, styrofoam yang digunakan dalam bentuk yang sudah dihancurkan sehingga menjadi bola-bola kecil, berukuran sebesar biji kedelai. Penambahan styrofoam ke dalam media tanam membuatnya mennjadi riangan. Namun, media tanam sering dijadikan sarang oleh semut.










DAFTAR PUSTAKA

Anonymousd. 2012. Ragam Media Tanam. http://www. Ragam Media Tanam « BELIVE IT OR NOT.htm
Anonymouse.2012. Gambar literature. http://www.google.co.id/imgres


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar